*pertengahan tahun 2015*
Rabu, 24 Februari 2016
menulis merupakan sebuah indikasi tingkat kegalauanku yang melampaui batas normal.
*pertengahan tahun 2015*
Rabu, 01 Juli 2015
cerita lalu yang sudah berlalu
aku terbelenggu dalam rekaan keterpaksaan yang palsu
menunggu dunia menutup mata?
aku tidak terlalu peduli bagaimana orang menatap
pertanyaan langsung adalah yang tidak bersahabat
tak mengapa berbisik tak terdengar
itu urusan mereka
Entah Kapan, Mengapa dan Dimana
ketika hidup ini terlalu dinikmati...rasanya gelisah dan cemas itu dibutuhkan juga.
untuk sedikit mengingatkan tentang kekurangan dan ketidakseimbangan yang selama ini tak pernah dihiraukan.
mengakui kekurangan disertai tindakan untuk mengubahnya perlahan menjadi lebih baik, mungkin menjadi alternatif cara untuk hidup lebih bijaksana.
bijaksana itu apa?
bijaksana dalam kamusku adalah menyikapi dan menempatkan segala sesuatu sesuai tempat dan porsinya.
Di akhir 2014
Setahun lebih mungkin ku tinggalkan "rumah" ini seperti pergi beranjak ke "dunia" lain. Tapi ternyata aku kembali dengan kerinduan dan masih tetap sama, hampa.
Duniaku memang berputar, lebih maju dari sebelumnya, tp belum lebih maju dari orang-orang.
setahun kebelakang terjadi banyak perubahan sejarah cerita hidupku...
Rumah Enin, di setiabudi di jual, tempat banyak kenangan masa kecil juga masa remajaku yang tertinggal disana, tidak semua indah, tapi dari sana cerita-cerita masakini ku tercipta.
Aku mengijak tahun kedua mengajar di SMK, aku memulai usahaku kueku di dunia wedding. aku semakin belajar dunia WO (wedding organizer). Hanya membantu temanku dan aku bukan siapa-siapa. Aku pindah ke rumah adik mamaku.
Di penghujung tahun 2014 ini setidaknya aku menorehkan sedikit cerita, bagaimana perjalanan ini selalu membentuk dan mengubah pandanganku...terhadap dunia dan hidup ini.
Jumat, 26 Juli 2013
Berilah aku Hidayah-Mu di Ramadhan ini
Tuhan tak pernah memberikan ujian yang tak sanggup kita lewati.
Beban lalu yang sempat membuatku buram, Diambil-Nya kembali karena aku sesungguhnya tak mampu.
Alunan hidupku memang melambat, tapi bercahaya kembali.
Tuhan...aku sadar Engkau menyayangi dan mengasihi kami.
Mohon ajarilah aku menjadi lebih tenang dan bijaksana.
Menjadi penyabar dan peduli sesama.
Tuhan...bantu aku menjaga hati ini agar selalu husnudzon.
Tuhan...lindungi putra hamba dari segala bahaya, dan keburukan.
Tuhan...berilah hamba pendamping yang dapat menjadi penuntun ke surga-Mu.
Minggu, 19 Mei 2013
muram
kabut itu datang lagi
menutupi cahaya yang sebenarnya baru saja masuk menerangi
ini sebenarnya asap yg berasal dari api yang disengaja
dengan sadar menyulut dedaunan kering tanpa makna
kemudian tiba-tiba padam menghilang
seketika kotor oleh sisa-sisa abu
bunga-bunga baru saja bermekaran menggoda lebah
kemudian menjadi kusam, layu tertunduk
Minggu, 17 Maret 2013
Falih tanggal 9 oktober 2012 berusia 3 tahun 9 bulan.
Dia semakin tumbuh tinggi, pintar, kuat, dan tampan.
Dan memiliki sifat yang sudah mulai terlihat yang mungkin menurun dari ku, yaitu keras.
Yaa...ada yang bilang buah jatuh tak jauh dr pohonnya.
Aku berdo'a semoga dia lebih banyak mewarisi sifat-sifat baikku saja...
Aku sering kali menyikapi Falih seperti aku menyikapi anak yang lebih dewasa dari usianya.
Dan aku rasa Falih memang lebih dewasa dari usianya di tambah Dia sehari-hari berada di lingkungan obrolan orang-orang dewasa.
Jadi tidak heran juga ya kalo Dia sedikit "kokolot begog".
Setiap orang tua selalu menginginkan anaknya lebih baik dari dirinya begitupun aku.
Dan tak jarang juga aku begitu takut Dia terluka baik hati maupun fisiknya.
Aku sering tak sadar ketika aku terlalu keras karena ketakutanku.
Seperti kemarin saat Falih berlari-lari di Griya sunda, menuruni tangga dan ekskalator tanpa mau di pegangi...aku takut, aku parno...beberapa kecelakaan pernah menimpa anak-anak yang jatuh dan terjepit di ekskalator. Tak sadar aku mengekspresikan ketakutanku dengan marah. Aku takut terjadi apa-apa dengan Falih. Setiap kali aku marah, saat itu pula aku menyesal. Tapi aku juga tak mampu menyembunyikan rasa ketakutanku. Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan Falih. Karena Falih adalah hartaku yang paling berharga. Dia separuh dari hidupku.
Aku Takut...
Aku ingin merasakan perasaan ini lagi...
Aku ingin merasakan dilindungi...
Tapi aku takut sebelum merasakannya...
takut kemudian merasa tergantung,
takut kemudian merasa kehilangan,
takut kemudian merasa kecewa,
Aku TAKUT...
sejak kecil aku memang seperti ini,
selalu ketakutan setelah merasahan kebersamaan,
selalu merasakan kesepian tiba-tiba setelah diperhatikan..
Hingga usiaku sekarang 25 tahun dan telah memilikin Falih skarang...
aku tetap merasakan ketakutan itu...
Aku butuh dicintai dan mencintai, tapi aku takut....
Falih...ibu minta maaf, ibu banyak salah sama Falih...
Kamis, 30 Agustus 2012
Aku ingin kau kelak menjadi penghuni tempat terindah
Kamis, 03 Mei 2012
Tiga kepribadian
Orang dewasa itu sebenarnya tahu dan bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Tapi tidak semua orang dewasa mampu mengambil keputusan benar yang "terbaik". Pintar juga tidak lantas membuat orang dewasa selalu mampu mengambil keputusan yang "terbaik" untuk hidupnya. Hanya orang-orang yang bijaksana yang berani mengambil keputusan yang "benar" dan "terbaik" untuk dirinya dan orang lain di sekitarnya. Butuh rasa tanggung jawab berupa sikap konsisten dan konsekuen terhadap keputusan apa yang di ambil.
Banyak orang dewasa yang kalah sama egonya (baca: malas) untuk memilih hal benar yang "terbaik", karena ga mau repot, ribet, dan ga bisa konsisten.
Yaa..namanya hidup pasti akan selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Semua mesti melalui tahap memilih baik secara sadar maupun tidak sadar.
Kesimpulannya orang dewasa (baca: penulis) kalah sama ego nya dan memanjakan kemalasannya.
Jadi, cerita yang sebenarnya begini....
Saya itu punya banyak rentetan teori dan list hal "benar" yang bisa dan sebenernya harus saya lakukan. Tapi saya malas memulainya. Bahkan saya tau 1 hal benar dan terbaik yang seharusnya saya lakukan, kerjakan dan segera selesaikan (baca: skripsi). OMG...tapi saya malas memulai...
Dan bodohnya saya tahu kemalasan ini yang sebenarnya juga membuat saya gelisah...
Dalam kepala selalu bergelut pikiran :
"Heh, lu kapan mau beresin skripsi dan memulai segala kehidupkan yang berbeda? Mau nyia2in waktu sampe kapan? mau buang duit buat bayar kuliah yang didiemin sampe kapan? Apa udah ngerasa cukup sebagai orang yang pernah kuliah ampir 7 tahun tapi statusnya lulusan SMA? Mau sampe kapan lu manjain rasa males lu?"
Dan sisi malas cuma jawab dengan enteng:
"Nyantai ajalah hidup ini harus dinikmati"
Dan sisi mumet jawab lagi:
"Gw bosen mumet"
Dan gw yang sekarang ga tau ada di sisi yang mana...
kalo aja ini di istilahin kepribadian ganda, di sini ada 3 kepribadian.
"si ambisius" "si males nyantai" dan yang lagi nulis lebih parah "si apatis"
"si ambisius" sama "si males nyantei" terus ribut, ngotot2an. "si apatis".. cuma planga-plongo ajah membiarkan 2 kepribadian lainnya ribut. Bangun tidur, melongo, ngeles, balik, bgadang, tidur. bangun tidur, mlongo, ngeles, bgadang, tidur....terus aja begitu setiap hari saking apapatisnya sama apa yang sebenarnya sedang menjadi perdebatan dalam pikirannya.
Padahal sebenarnya ini (baca: skripsi) adalah tiket menuju kehidupan baru yang berbeda.
